Semarang –
Ratusan penari sukses membawa penonton menelusuri jejak panjang masuknya Islam ke Jawa lewat pertunjukan spektakuler berjudul Jejak Langit di Atas Tanah Jawa. Acara yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (12/9/2026) ini menjadi salah satu hiburan utama pembukaan MTQ Nasional XXXI.
Menurut Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS Unnes, Eny Kusumastuti, pagelaran ini bukan sekadar tarian. Ia merangkai sejarah, budaya, dan pesan spiritual tentang Islam sebagai cahaya pencerahan di tanah Jawa.
Cerita dibuka dengan gambaran kehidupan masyarakat Majapahit yang digambarkan makmur di bawah sosok Brawijaya. Alur kemudian beralih ke kedatangan Cheng Ho, dinamika perdagangan, hingga munculnya Sunan Kalijaga sebagai pembawa cahaya. “Ada sedikit kegelisahan di masyarakat, lalu datang pencerahan dari Sunan Kalijaga yang menandai hadirnya Islam di wilayah Semarang,” jelas Eny.
Permainan cahaya dan simbol lentera menjadi penegas alur. Dari suasana gelap berangsur terang, hingga lentera-lentera itu tersusun membentuk lafal Allah SWT. “Cahaya itu menyinari tanah Jawa, menandakan Islam membawa pencerahan,” ujarnya.
Unsur budaya khas Semarang juga diangkat, mulai dari kapal Cheng Ho, kipas, barongsai, liong, hingga bedhaya dan gambaran kehidupan petani. Kolaborasi ini menampilkan akulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang khas kota pelabuhan tersebut.
Sebanyak 300 penari dilibatkan, terdiri atas 281 mahasiswa Pendidikan Sendratasik Unnes dan 19 penari dari ISI Surakarta. Persiapan relatif singkat, dimulai 8 Agustus 2026 dengan sekitar 20 kali latihan.
Selain tarian kolosal, malam pembukaan juga diisi tari Saman, aksi bersama menyanyikan Mars MTQ yang memecahkan Rekor Muri, serta penampilan penyanyi religi Opick. Acara ini mempertemukan kafilah dari 38 provinsi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan bahwa MTQ di Semarang tidak hanya ajang lomba tilawah dan hafalan Al-Qur’an. “Ini momentum persatuan dan kedamaian. Setelah 47 tahun, MTQ kembali digelar di Pulau Jawa sejak 1979,” katanya. Kehadiran kepala daerah dari berbagai wilayah dinilai sebagai bukti semangat kebersamaan lintas latar belakang.
