Praktik Kolaboratif Jawa Tengah Diharapkan Jadi Pemicu Daerah Lain Percepat Atasi Stunting

Semarang – Jawa Tengah kini menjadi salah satu wilayah yang mendapat sorotan dalam upaya mempercepat penurunan stunting. Berbagai pendekatan yang diterapkan di provinsi ini dinilai layak ditiru daerah lain, terutama karena mengedepankan kerja sama lintas sektor dan layanan kesehatan yang langsung menjangkau warga di desa.

Eddy Cahyono Sugiarto, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Sekretariat Wakil Presiden, menyatakan bahwa semangat dan komitmen pimpinan di Jawa Tengah diharapkan mampu mendorong daerah-daerah lain untuk mengambil langkah serupa. Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan serta Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Semarang, Selasa (22/9/2026).

Menurut Eddy, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi gizi. Masalah ini menyangkut banyak aspek, mulai dari lingkungan, sanitasi, infrastruktur, air bersih, hingga faktor sosial. Karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antar berbagai pihak.

Ia juga menyoroti pengalaman dua kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Demak dan Kabupaten Semarang. Kedua daerah itu telah menunjukkan praktik yang dapat dipelajari dan kemudian dikembangkan lebih luas ke wilayah lain.

Eddy menekankan bahwa keberhasilan menurunkan stunting membutuhkan penyatuan program lintas kementerian, pemerintah daerah, hingga tingkat desa. Intervensi yang berjalan sendiri-sendiri dinilai kurang efektif.

Data 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen. Pemerintah terus berupaya menurunkannya agar sesuai target dalam RPJMN 2025-2029. Eddy menegaskan, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada komitmen kepala daerah serta kolaborasi lintas sektor yang nyata, agar program tidak hanya berhenti di tingkat kebijakan.