Unsoed Ambil Alih Politeknik Banjarnegara, Optimis Siap Terima Mahasiswa Baru Tahun Ini
Banjarnegara – Rencana pengalihan pengelolaan Politeknik Banjarnegara kepada Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) semakin mendekati realisasi. Tanda kemajuan itu terlihat jelas saat Rektor Unsoed didampingi Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas beserta timnya datang langsung ke kampus politeknik tersebut pada Rabu (29/4).
Kedatangan rombongan Unsoed disambut Bupati Banjarnegara, Sekretaris Daerah, serta pejabat dari Bappeda, BPKAD, dan Dinas Pendidikan. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat bahwa pengelolaan politeknik segera diserahkan kepada Unsoed.
Rektor Unsoed, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq, M.Sc., Agr., IPU ASEAN Eng., menilai langkah ini strategis. Menurutnya, pengalihan tersebut akan memaksimalkan potensi pendidikan vokasi di Banjarnegara sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi yang bermutu.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tidak hanya menyerahkan aset kampus yang sudah ada, tetapi juga menawarkan tiga alternatif lahan tambahan. Tawaran itu dimaksudkan untuk mendukung pengembangan kampus setelah berada di bawah Unsoed.
Politeknik Banjarnegara yang berdiri sekitar 2008 sempat mengalami penurunan jumlah mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat beban anggaran daerah semakin berat. Pemerintah kabupaten berharap, dengan bergabung ke Unsoed, kualitas pendidikan vokasi di wilayah ini kembali meningkat dan minat masyarakat pun tumbuh kembali.
Saat ini politeknik tersebut mengelola tiga program studi Diploma 3, yaitu Agroindustri, Kesehatan Lingkungan, dan Kebidanan. Ketiga prodi itu belum dimiliki Unsoed.
Proses pengalihan akan berjalan secara bersamaan, mencakup sisi akademik maupun pengelolaan aset. Unsoed segera melakukan audiensi dengan kementerian terkait untuk urusan akademik. Sementara itu, pengalihan aset memerlukan persetujuan DPRD karena nilai tanahnya melebihi Rp5 miliar.
Unsoed menargetkan pengalihan ini selesai dalam waktu dekat sehingga bisa dimanfaatkan untuk penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Dua skenario disiapkan. Jika memungkinkan, seluruh program studi, mahasiswa, dan dosen yang ada akan langsung diintegrasikan ke sistem Unsoed setelah mendapat izin kementerian. Jika belum bisa, Unsoed akan membuka program vokasi baru di lokasi yang sama, seperti D3 Agribisnis, D3 Budidaya Ikan, D3 Sumber Daya Ternak, dan D3 Perencanaan Sumber Daya Lahan. Program lama tetap berjalan hingga mahasiswa yang sudah terdaftar menyelesaikan studinya.
Rektor juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk pembukaan jenjang sarjana (S1) dan pascasarjana (S2) di lokasi tersebut.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa ruang kelas dan laboratorium yang dimiliki politeknik sudah cukup memadai dan dalam kondisi baik. Hanya sedikit penyesuaian yang dibutuhkan agar memenuhi standar Unsoed.
Sebagai langkah awal, Unsoed mendorong Pemerintah Kabupaten Banjarnegara untuk mulai mengenalkan program-program vokasi kepada masyarakat. Tujuannya agar minat melanjutkan pendidikan tinggi di daerah tersebut meningkat. Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci agar program vokasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
