Banjarnegara Bidik Peringkat Tujuh Besar di Porprov Jateng 2026 dengan 326 Atlet

Banjarnegara – Kabupaten Banjarnegara mematok target masuk tujuh besar klasemen Porprov XVII Jawa Tengah 2026. Untuk mewujudkan sasaran tersebut, sebanyak 326 atlet dan pelatih disiapkan menghadapi kompetisi olahraga tingkat provinsi yang berlangsung di Semarang Raya pada 25–31 Oktober 2026.

Kontingen daerah telah dikukuhkan secara resmi sebagai bagian dari rangkaian persiapan. Pada kesempatan yang sama, Muhammad Ali dilantik menjadi Komandan Kontingen Banjarnegara di Pendopo Dipayuda Adigraha Minggu (13/9).

Ketua KONI Banjarnegara Nurohman Ahong menyatakan bahwa seluruh kontingen telah melalui program pembinaan dan latihan yang digelar di masing-masing cabang olahraga. Kekuatan utama terdiri atas 237 atlet dan 72 pelatih yang akan bertanding di 34 cabang, sehingga totalnya mencapai 309 orang.

Selain itu, daerah ini juga mengirimkan tim futsal putri berstatus ekshibisi yang diperkuat 11 atlet beserta tiga pelatih. Dengan tambahan tersebut, keseluruhan personel yang dibawa mencapai 326 atlet dan pelatih. Jumlah ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing sekaligus mengejar posisi tujuh besar.

Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana mengingatkan para atlet yang sudah dikukuhkan agar tampil maksimal dan menjaga reputasi daerah. Ia menilai mereka sebagai duta olahraga yang membawa harapan masyarakat ketika bertanding di tingkat provinsi.

“Yang penting berjuang demi menjadi yang terbaik, soal hasil akhir serahkan kepada Tuhan. Ingat minta doa restu orang tua dan semangat berlatih serta menjaga nama baik Banjarnegara,” kata Amalia.

Pesan tersebut diharapkan menjadi bekal semangat dan sportivitas bagi seluruh kontingen. Dengan persiapan yang terus disempurnakan, Banjarnegara siap bersaing di Semarang Raya. Target tujuh besar kini menjadi perjuangan bersama atlet, pelatih, ofisial, dan seluruh elemen pendukung.

Tarian Kolosal Jejak Langit Warnai Pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Hadirkan Kisah Pencerahan Islam di Tanah Jawa

Semarang –

Ratusan penari sukses membawa penonton menelusuri jejak panjang masuknya Islam ke Jawa lewat pertunjukan spektakuler berjudul Jejak Langit di Atas Tanah Jawa. Acara yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (12/9/2026) ini menjadi salah satu hiburan utama pembukaan MTQ Nasional XXXI.

Menurut Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik FBS Unnes, Eny Kusumastuti, pagelaran ini bukan sekadar tarian. Ia merangkai sejarah, budaya, dan pesan spiritual tentang Islam sebagai cahaya pencerahan di tanah Jawa.

Cerita dibuka dengan gambaran kehidupan masyarakat Majapahit yang digambarkan makmur di bawah sosok Brawijaya. Alur kemudian beralih ke kedatangan Cheng Ho, dinamika perdagangan, hingga munculnya Sunan Kalijaga sebagai pembawa cahaya. “Ada sedikit kegelisahan di masyarakat, lalu datang pencerahan dari Sunan Kalijaga yang menandai hadirnya Islam di wilayah Semarang,” jelas Eny.

Permainan cahaya dan simbol lentera menjadi penegas alur. Dari suasana gelap berangsur terang, hingga lentera-lentera itu tersusun membentuk lafal Allah SWT. “Cahaya itu menyinari tanah Jawa, menandakan Islam membawa pencerahan,” ujarnya.

Unsur budaya khas Semarang juga diangkat, mulai dari kapal Cheng Ho, kipas, barongsai, liong, hingga bedhaya dan gambaran kehidupan petani. Kolaborasi ini menampilkan akulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang khas kota pelabuhan tersebut.

Sebanyak 300 penari dilibatkan, terdiri atas 281 mahasiswa Pendidikan Sendratasik Unnes dan 19 penari dari ISI Surakarta. Persiapan relatif singkat, dimulai 8 Agustus 2026 dengan sekitar 20 kali latihan.

Selain tarian kolosal, malam pembukaan juga diisi tari Saman, aksi bersama menyanyikan Mars MTQ yang memecahkan Rekor Muri, serta penampilan penyanyi religi Opick. Acara ini mempertemukan kafilah dari 38 provinsi.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan bahwa MTQ di Semarang tidak hanya ajang lomba tilawah dan hafalan Al-Qur’an. “Ini momentum persatuan dan kedamaian. Setelah 47 tahun, MTQ kembali digelar di Pulau Jawa sejak 1979,” katanya. Kehadiran kepala daerah dari berbagai wilayah dinilai sebagai bukti semangat kebersamaan lintas latar belakang.